Gowes Sampai ke Wisata Viral Grojogan Watu Purbo

23. January 2020 Catatan Ringan 0
Gowes Sampai ke Wisata Viral Grojogan Watu Purbo

Pada hari Minggu yang lalu saya berkesempatan main ke tempat yang sedang viral di kalangan traveler maupun penikmat gowes. Tempat ini berada di daerah Tempel, Sleman, tepatnya di Bangunrejo, salah satu desa di Kabupaten Sleman yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Magelang di Jawa Tengah. Tempat yang saya kunjungi tersebut adalah Grojogan Watu Purbo. Tempat ini merupakan salah satu aliran Kali Krasak yang juga merupakan jalur lahar dingin dari Gunung Merapi. Tak heran bila kemarin itu saya juga menemukan bebatuan dengan berbagai macam ukuran. Mungkin cukup mengerikan apabila saya datang ke sana saat hujan turun. Bisa jadi aliran yang datang bukan air saja, tetapi sudah bercampur dengan lahar dingin dari lereng Gunung Merapi.

Untuk itu saya akan mencoba menceritakan perjalanan hingga menuju ke Grojogan Watu Purbo ini. Jadi begini….

Rencana awalnya sebenarnya saya mau ke sana dengan bersepeda. Tetapi karena satu keluarga kepingin ikut jadi sepeda saya naikkan di mobil saja dengan harapan bisa gowes dari tengah perjalanan. Tetapi, di perjalanan baru teringat kalau diantara kami semua yang ikut hanya saya yang bisa menyetir mobil. Jadi, niat untuk bersepeda terpaksa saya urungkan. Anggap saja perjalanan kali ini bisa digunakan untuk survey rute dan lokasi biar nanti saat gowes beneran sudah mempersiapkan diri dengan baik.

Perjalanan kami tempuh kurang lebih 45 menit dari Stadion Maguwoharjo. Kebetulan hari itu Navidz ada latihan sepaturoda. Kami melewati jalur Minomartani membelah jalan Kaliurang ke utara menuju ke arah Turi setelah belok dari Pakem. Dari situ perjalanan lumayan lancar karena tidak banyak kendaraan bermotor yang melewati jalan itu, hanya ada beberapa rombongan pesepeda yang berlalu lalang. Hari Minggu memang sering dijadikan momen bagi komunitas sepeda di Yogyakarta untuk berkeliling ke daerah-daerah yang masih hijau di pedesaan.

grojogan watu purbo
Grojogan Watu Purbo

Dari arah Turi mobil kami berjalan melalui jalan alternatif ke Magelang menuju ke arah Tempel. Grojogan Watu Purbo berada di aliran Kali Krasak yang arahnya adalah menuju Balerante, salah satu pos pengamatan Gunung Merapi. Kami sudah sangat familiar dengan jalan ini, karena salah satu keluarga istri saya berada di daerah Balerante. Jadi kami tidak perlu bertanya ke orang lain untuk menemukan jalan menuju ke destinasi yang kami tuju. Apalagi di handphone sudah saya aktifkan Google Maps untuk mempermudah perjalanan. Terimakasih Google.

Papan penunjuk arah ke Watu Purbo terlihat dengan jelas di pinggir jalan. Rupanya papan penunjuk arah tersebut dibuat oleh mahasiswa KKN dari salah satu universitas di Yogyakarta yang menjalani pengabdian di Desa Bangunrejo. Sepertinya keberadaan Watu Purbo yang viral pun tidak lepas dari peran serta mereka. Saat masuk ke area desa menuju destinasi, saya agak pesimis mobil kami dapat melewati perjalanan dengan lancar. Sebab, makin lama jalan hanya mampu dilalui oleh satu mobil saja. Bahkan, mobil kami harus melewati jalan setapak yang berlumpur sekitar 300 meter sebelum sampai di tempat wisata. “Repot nih kalau nanti ketemu sama mobil di depan,” pikir saya dengan raut pesimis.

Setelah mencoba untuk bertanya ke penduduk yang kebetulan lewat, ternyata parkir mobil sudah disediakan di sekitar area wisata viral ini. Bahkan bis juga bisa lewat katanya. Dan benar juga, ada parkir mobil dan motor yang tersedia. Namun di luar dugaan kami, kondisi parkiran tidak tertata dan membuat bingung kendaraan yang akan keluar masuk dari area ini. Setelah saya tanyakan ke petugas parkirnya, ternyata mereka belum siap menerima kedatangan banyak orang dalam satu waktu secara bersamaan. Sepertinya warga desa belum sempat membuat paguyuban untuk mengurus Watu Purbo yang beralih fungsi menjadi tempat wisata ini. Dari tempat parkir kami berjalan tidak jauh untuk menuju ke tempat yang fotonya sudah tersebar di instagram dalam berbagai rupa ini. Tak lupa sepeda saya turunkan dari mobil. Meskipun tidak bisa gowes dari rumah ke Watu Purbo, saya tidak ingin melepas kesempatan untuk berfoto di area ini menggunakan sepeda. Eksis juga butuh usaha.

Rupanya tempat wisata ini disesaki oleh para pengunjung yang memiliki kesamaan dengan kami, penasaran. Terlihat dari raut muka mereka yang menampakkan rasa kagum atas keindahan tempat ini. Berfoto adalah sebuah keharusan bagi orang yang berkunjung ke sini agar mendapatkan momen mengabadikan Grojogan Watu Purbo. Tentu saja untuk dipamerkan di social media yang mereka miliki. Termasuk kami tentunya.

Dan sesuai dugaan saya, hari itu banyak sekali para goweser yang datang ke Watu Purbo. Saya pun tidak sungkan dan malu membawa sepeda hingga ke dasar Kali Krasak agar bisa mendapatkan momen foto yang bagus. Agak cukup susah untuk membawa sepeda ke dasar, yaitu dengan dipanggul, karena jalanannya harus melalui tangga dari bebatuan. Lumayan capek juga karena cukup jauh jalan dari atas menuju ke dasar kali.

grojogan watu purbo
Bermain Air di Kali Krasak

Sesampainya di dasar kali saya berkesempatan untuk berfoto-foto dengan beberapa spot yang menarik di situ. Nah, yang berbeda dengan tempat wisata viral lainnya, di Watu Purbo ini tidak ada spot foto buatan untuk menambah daya tarik. Semuanya dibiarkan alami. Tapi bagi saya hal tersebut justru lebih sederhana dan ikonik karena propertinya langsung dari alam, yaitu rerumputan dan bebatuan raksasa dari Gunung Merapi. Anak-anak saya biarkan bermain air di sungai, meskipun sedikit berbau belerang. Tidak apa-apa toh bisa bilas di toilet yang disediakan. Tapi sayang, toilet yang ada cuma ada dua buah. Jadi saat mau bilas harus rela antri lama dengan pengunjung lainnya.

Pemandangan yang kami saksikan membuat mata tidak mau beranjak jauh dari dasar sungai. Karena dari tempat itu kami bisa melihat dengan jelas grojogan yang berjumlah lima undak-undakan air terjun. Sangat eksotis dan alami. Bahkan ada beberapa pengunjung yang berfoto di air terjun. Lumayan bahaya juga seandainya ada aliran air yang membawa batu dari atas. 

Di Grojogan Watu Purbo ini belum banyak tersedia warung yang menjajakan makanan dan minuman. Namun, kami sempat membeli teh panas seharga Rp2000, air mineral seharga Rp3000, dan tempe mendoan yang satunya seharga Rp1000. Harga yang relatif murah menurut saya. Selain itu juga bisa menambal sementara rasa dahaga dan lapar yang mendera karena naik turun tangga. Apalagi cuaca saat itu sangat panas. Maklum, kami berada di tempat itu sekitar pukul 10 hingga 11 siang. 

grojogan watu purbo
Santai di Watu Purbo

Selama kurang lebih satu jam kami berada di Grojogan Watu Purbo, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Balerante untuk menemui saudara yang ada di sana. Tidak ada kesulitan yang berarti untuk keluar dari tempat itu karena hari sudah siang dan pengunjung sudah tidak ada lagi yang berdatangan. Harga Rp10.000 adalah tarif parkir yang harus kami tebus untuk memarkirkan mobil di area parkir Grojogan Watu Purbo, Bangunrejo, Tempel, Sleman.

Semoga keberadaan destinasi wisata yang viral ini tidak membuat keasrian dan kealamiannya berubah setelah banyak didatangi oleh para wisatawan dan traveler yang ingin melampiaskan rasa penasarannya. 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *