Ketika Anak Tidak Lagi Bebas

13. August 2012 Catatan Ringan 3

Waktu kecil dulu (balita) seringkali saya bermain di lapangan depan rumah ato kebun ketela milik tetangga. Maklum, dulu waktu di Madiun tinggalnya di desa. Tangan dan baju kotor penuh tanah pun tidak dimarahi asal setelah bermain langsung ganti baju dan mandi. Itu memang konsekuensi terbaik.

Tapi hampir sebagian besar orangtua (yang saya kenal) memberikan proteksi berlebih kepada anaknya. Gak boleh main ini, gak boleh deket-deket itu, gak boleh pegang anu, dan bermacam gak boleh lainnya. Akibatnya anak hanya bisa bermain di dalam rumah. Itupun tetap dalam pengawasan.

Gak tau juga sih apa orangtuanya yang terlalu lebay apa memang kondisi di jaman sekarang yang memang sarat dengan rentan penyakit. Main pasir dikit aja bisa batuk pilek.

Kemarin, tanpa ada pengawasan dari simbah-simbahnya, kebetulan di rumah sendiri, Nararya saya bebaskan main-main di halaman (kecil) depan rumah. Dia senang sih, tapi hasil akhirnya setelah 1/2 jam lebih bermain adalah jatuh “kejlungup” dengan muka lebih dulu. Wajah dan mulut penuh tanah, hidungnya bengkak dan luka.

Efeknya? Hari ini diprotes simbah-simbahnya. :|


3 thoughts on “Ketika Anak Tidak Lagi Bebas”

  • 1
    berbah on October 8, 2012 Reply

    Butul maspher, kadang kasihan anak2 gak bisa bebas bermain, hrs cari rumah yang depannya kayak lapangan, tinggal dipagari trus diawasi dari jauh :D

  • 2
    Rahmat on November 5, 2012 Reply

    Lucu dan aktif putranya.

  • 3
    latree on February 19, 2013 Reply

    aku juga bebasin anakku sih. hasilnya si kecul kejlungup dari tangga. jontor :(

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *