Kraton Wedding

Hari ini adalah hari bersejarah bagi negeri Ngayogyakarta Hadiningrat, terutama keluarga Kraton. Putri bungsu Sri Sultan, Mbak Reni, resmi sah sebagai istri dari mas Ubay, salah satu staf Wakil Presiden, asal Lampung.

Niat Mbak Reni untuk menjadikan pernikahannya sebagai ajang promosi wisata serta budaya Jawa di Jogja berhasil, setidaknya menurut saya, yang melihat langsung riuhnya suasana kota Jogja dalam tiga hari ini. Terhitung, sejak Minggu (16/10) hingga besok Rabu (19/10) acara Pernikahan Agung berlangsung.

Bila jaman dahulu, hajatan pernikahan di lingkungan kraton itu berlangsung 40 hari 40 malam, sekarang cukup 4 hari 4 malam. Itupun sudah mampu menyedot wisatawan lokal maupun manca. Apalagi, acraa Pernikahan Agung ini dikemas berdekatan dengan pesta ulang tahun Jogja dan acara tahunan Jogja Java Carnival yang puncaknya adalah pada 22 Oktober nanti.

Saya baru tahu dari istri kemarin kalo ternyata mbak Reni itu lulusan jurusan Pariwisata saat kuliah S2 di negara yang kami pun tidak tahu (googling aja ya). Sejak awal mau menikah, mbak Reni ini memang berniat ingin menjadikan acaranya sebagai upaya memelihara tradisi budaya Jawa dan meingkatkan gairah pariwisata di Jogja.

Yang menarik, setelah berbagai prosesi pernikahan adat Jawa selayaknya umum, pasangan mbak Reni – mas Ubay juga dikirab dari Kraton menuju Bangsal Kepatihan di kawasan Malioboro menggunakan kereta kencana. Inilah nampaknya yang menjadi target mbak Reni untuk mempromosikan Jogja.

Di sepanjang Malioboro, yang saat ini sudah ditutup, disediakan banyak warung angkringan yang seluruh makanannya dapat dinikmati secara gratis. Dan untuk hidangan tamu undangan, pihak Kraton kabarnya juga memesan lebih dari 5000 paket Bakpia dari berbagai macam toko oleh-oleh yang ada di Jogja sebagai official snack.

Efek dari kemasan Pernikahan Agung ini, menurut teman, hampir seluruh kamar di hotel berbintang yang ada di Jogja habis dipesan oleh wisatawan maupun tamu undangan yang datang. Maklum, raja kami memang orang istimewa.

Wujud dari guyup rukunnya serta antusiasme warga Jogja menyambut Pernikahan Agung ini adalah adanya puluhan penjor janur kuning hasil sumbangan masyarakat Jogja yang tersebar di sepanjang Malioboro. Katanya, ini sebagai tradisi nenek moyang, yaitu rakyat memberikan upeti bagi keluarga Sultan sebagai rajanya.

Inilah perwujudan negeri monarki yang berbudaya dan menjunjung warisan bangsa. Jadi, kalau Jogja memang istimewa kenapa harus diobok-obok ya? Selamat buat KPH Yudonegoro dan GKR Bendoro.

 

Foto : dari twitpic.com akun @KratonWedding


2 thoughts on “Kraton Wedding”

  • 1
    Jizz Dancer on October 21, 2011 Reply

    benar2 pesta rakyat!
    nderek mangayubagyo

  • 2
    latree on November 7, 2011 Reply

    hiks. iri aku fer…
    besok kalo putri sultan yang lain nikah lagi aku book kamar di rumahmu ya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *