PSS Sleman Ale

PSS Sleman Ale

Malam tadi PSS Sleman, klub lokal yang jadi jagoan saya, memastikan lolos ke babak final kompetisi Divisi Utama LPIS setelah menang 3-0 dari Persitara Jakarta Utara. Dan saya juga menjadi bagian dari euforia yang ada di Stadion Maguwoharjo tadi malam. Iya, saya yang dua hari sebelumnya harus diangkut sampe ke IGD di RS HappyLand dan diharuskan bedrest selama 2 hari ini.

Well, mungkin gak perlu diperdebatkan jika seandainya yang menulis postingan ini adalah Uce Abdullah, salah satu suporter keren yang merasa bahwa karena PSS lah dia masih bisa hidup. Seseorang yang berkali-kali keluar masuk rumah sakit karena sakitnya dan tetap nekad menonton tim kebanggaannya itu berlaga di stadion. Iya, saya bukan Ucin. Tapi entah kenapa saya merasa kalau perjuangan PSS tadi malam harus kusaksikan secara langsung di stadion, dan bukan hasil “kepo” di twitter ataupun facebook.

Menurutku, PSS di musim ini bukanlah PSS di beberapa musim sebelumnya yang sempat membuat saya selalu memasang tagar #HampirLelah dalam menyikapi tim ini. Bukan. PSS di musim ini menjelma menjadi tim seperti SMA Kakegawa bentukan Kubo Yoshiharu, sebuah tim baru yang selalu menampilkan spirit di setiap permainannya. Menghibur dan tentu saja membikin malu lawan-lawannya.

Di musim ini, hanya saat away dan pertandingan pembukaan saja saya absen menonton PSS saat berlaga secara resmi. Suasana di stadion dari atraksi suporter dan permainan menarik tim Elang Jawa adalah magnet yang tidak bisa saya pungkiri. Mungkin juga teman-teman fans PSS lainnya juga merasakan hal yang sama. Suporter dan permainan tim itu adalah dua sisi yang tidak bisa dipisahkan. Saling mempengaruhi. Mungkin itu yang perlu dipertahankan di musim-musim berikutnya.

Kampanye “No Ticket No Game” adalah bukti bahwa PSS dan suporter yang mendukungnya sangat ingin klub ini bisa mandiri dan tetap eksis mengarungi kompetisi, entah itu resmi atau tarkam sekalipun. Untuk itulah saya paling sering menonton pertandingan PSS di tribun paling mahal. Ya, itu salah satu cara saya untuk membantu keuangan klub ini.

Sebagai fans korwil dunia maya (nontonnya memantau twitter dan FB), saya sangat salut dengan perjuangan para suporter PSS di musim ini. Keinginan mereka untuk menjaga dan menghidupi klub kesayangannya patut mendapat apresiasi. Mulai dari jualan merchandise suporter, merchandise klub, toko kelontong, sampe buka angkringan pun mereka jalani demi tim kecil dari kabupaten kecil ini. Kalian hebat beroh n sist…

Untuk itulah semifinal tadi malam saya tetap datang. Ya, menonton secara langsung sinergi antara suporter dan klub yang dinamis dan harmonis. Hasilnya pun cukup romantis, jalan ke FINAL. Selangkah lagi menuju kejayaan yang disebut JUARA.

Mungkin untuk skala nasional, siapapun yang jadi juara besok gak akan berpengaruh apapun karena kecil kemungkinan dari Divisi Utama LPIS bakal berlaga di Liga Super. Tapi bagi saya ini merupakan perjalanan sejarah panjang yang berliku dari sebuah klub kecil di pinggiran kota Jogja. Menjadi juara dengan keringat dan usaha sendiri adalah bukti bahwa klub ini benar-benar nyata.

Ah sudahlah. Nyata atau tidak yang pasti saya bakal bisa berkata dengan bangga ke teman-teman ataupun saudara kalau saya mendukung tim lokal yang hebat. Maklum, PSS ini memang kalah kelas kalo dibandingkan tim-tim sekelas Persija, Persib, Arema, ataupun Persebaya. So what?

Aku cinta PSS ku tak terbatas waktu
Takkan ada selain dirimu
Cinta yang telah kita bina pahit manis bersama
Demi PSS Super Elang Jawa


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *